FILOSOF DUNIA
SOCRATES
 |
| Socrates (Yunani: Σωκράτης, Sǒcratēs) (470 SM - 399 SM) |
Socrates lahir di Athena pada tahun 470 sebelum Masehi dan meninggal
pada tahun 399 SM. Bapaknya tukang pembuat patung, ibunya bidan. Pada
permulaannya Socrates mau menuruti jejak bapaknya, sebagai tukang
pembuat patung. Namun, ia berganti haluan: dari membentuk batu jadi
patung ia membentuk watak manusia.
Masa hidupnya hampir sejalan dengan perkembangan sufisme di Athena.
Socrates bergaul dengan semua orang, tua dan muda, kaya dan miskin. Ia
seorang filosof dengan coraknya sendiri. Ajaran filosofinya tak pernah
dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara
hidup. Menurut kata teman-temannya: Socrates demikian adil, sehingga ia
tak pernah berlaku zalim. Ia begitu pandai menguasai dirinya, sehingga
ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Ia
demikian cerdiknya, sehingga ia tak pernah khilaf dalam menimbang buruk
baik.
Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar,
ia malah tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi
dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan
dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh
karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli
pengetahuan, melainkan pemikir.
Oleh karena Socrates tidak menuliskan filosofinya, maka sulit sekali
mengetahui dengan kesahihan ajarannya. Ajarannya itu hanya dikenal dari
catatan-catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Catatan
Xenephon kurang kebenarannya, karena ia sendiri bukan seorang filosof.
Untuk mengetahui ajaran Socrates, orang banyak bersandar kepada Plato.
Dalam uraian-uraian Plato, yang kebanyakan berbentuk dialog, hampir
selalu Socrates yang dikemukakannya. Ia memikir, tetapi keluar
seolah-olah Socrates yang berkata.
Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk
selama-lamanya. Di sini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis,
yang mengajarkan, bahwa semuanya relatif dan subyektif dan harus
dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Socrates berpendapat, bahwa
kebenaran itu tetap dan harus dicari.
Dalam mencari kebenaran itu ia tidak memikir sendiri, melainkan setiap
kali berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Orang yang
kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawannya, melainkan sebagai kawan
yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari
jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan
menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang. Sebab itu
metodenya disebut maieutik, menguraikan, seolah-olah menyerupai
pekerjaan ibunya sebagai dukun beranak.
Socrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap daripada
sesuatunya. Sebab itu ia selalu bertanya: apa itu? Apa yang dikatakan
berani, apa yang disebut indah, apa yang bernama adil? Pertanyaan
tentang apa itu harus lebih dahulu daripada apa sebab. Ini biasa
bagi manusia dalam hidup sehari-hari. Anak kecil pun mulai bertanya
dengan apa itu. Oleh karena jawab tentang apa itu harus dicari
dengan tanya jawab yang mungkin meningkat dan mendalam, maka Socrates
diakui pulasejak keterangan Aristotelessebagai pembangun dialektik
pengetahuan. Tanya jawab, yang dilakukan secara meningkat dan mendalam,
melahirkan pikiran yang kritis. Dalam berjuang mencari kebenaran yang
umum lakunya, yaitu mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya, terletak
seluruh filosofinya.
Oleh karena Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya-jawab
sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, maka jalan
yang ditempuhnya ialah metode induksi dan definisi. Kedua-duanya itu
bersangkut-paut. Induksi menjadi dasar definisi.
Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara
kritis. Ia tidak berusaha mencapai dengan contoh dan persamaan, dan
diuji pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut di atas, dari
lawannya bersoal jawab, yang masing-masing terkenal sebagai ahli dalam
haknya sendiri-sendiri, dikehendakinya definisi tentang berani indah
dan lain sebagainya. Pengertian yang diperoleh itu diujikan kepada
beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Apabila dalam pasangan itu
pengertian tidak mencukupi, maka dari ujian itu pengertian dicari
perbaikan definisi. Definisi yang tercapai dengan cara begitu diuji pula
sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikianlah
seterusnya. Begitulah cara Socrates mencapai pengertian. Dengan melalui
induksi sampai kepada definisi. Definisi yaitu pembentukan pengertian
yang umum lakunya. Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang
berdasarkan pengertian.
Budi ialah tahu, kata Socrates. Inilah inti sari daripada etiknya. Orang
yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Paham etiknya itu
kelanjutan dari metodenya. Induksi dan definisi menuju kepada
pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Dari mengetahui beserta
keinsafan moral, mesti menimbulkan budi.
Apabila budi adalah tahu, maka tak ada orang yang sengaja, atas maunya
sendiri, berbuat jahat. Kedua-duanya, budi dan tahu, bersangkut-paut.
Apabila budi adalah tahu, berdasarkan timbangan yang benar, maka jahat
hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak
mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar. Orang yang kesasar
adalah kurban daripada kekhilafananya sendiri. Kesasar bukanlah
perbuatan yang disengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas maunya
sendiri.
Oleh karena budi adalah tahu, maka siapa yang tahu akan kebaikan dengan
sendirinya terpaksa berbuat baik. Untuk itu perlulah orang pandai
menguasai diri dalam segala keadaan. Dalam suka maupun duka. Dan apa
yang pada hakekatnya baik, adalah juga baik bagi kita sendiri. Jadinya,
menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai
kesenangan hidup. Kesenangan hidup tidak pernah dipersoalkan oleh
Socrates, sehingga murid-muridnya kemudian memberikan pendapat mereka
sendiri-sendiri tentang kesenangan hidup.
PLATO
Plato lahir pada tahun 428/7 sebelum masehi dari keluarga terkemuka di
Athena, ayahnya bernama Ariston dan ibunya bernama Periktione. Ketika
bapaknya meninggal ibunya menikah lagi dengan adik ayahnya Plato yang
bernama Pyrilampes yang tidak lain adalah seorang politikus, dan Plato
banyak terpengaruh dengan kehadiran pamannya ini. Karena sejak kehadiran
pamannya ini ia banyak bergaul dengan para politikus Athena.
Selain para politikus ia juga banyak dipengaruhi oleh Kratylos, seorang
filusuf yang meneruskan ajaran Herakleitos yang mempunyai pendapat bahwa
dunia ini terus berubah. Dari pergaulan dengan para politikus, Plato
akhirnya menelurkan sebuah pemikiran bahwa pemimpin suatu negara
haruslah seorang filusuf, hal ini dilontarkan karena kekecewaannnya atas
kepemimpinan para politikus yang ada pada saat itu, terutama yang
berkaitan dengan kematian gurunya, yaitu Socrates, di persidangan yang
berakhir pada kematian gurunya tersebut.
Pada perkembangan selanjutnya Plato mendirikan Akademia sebagai pusat
penyelidikan ilmiah dan di sekolah ini ia berusaha merealisasikan
cita-citanya yaitu menjadikan filsuf-filsuf yang siap menjadi pemimpin
negara, dan akademia inilah awal dari munculnya universitas-universitas
saat ini karena lebih menekankan pada kajian ilmiah bukan sekedar
reotrika. Ia terus mengepalai dan mengajar di akademia ini hingga akhir
hayatnya.
Dalam menelurkan karya-karya fisafatnya Plato menggunakan metode dialog,
karena ia percaya filsafat akan lebih baik dan teruji jika dilakukan
melalui dialog dan banyak dari karya-karyanya disampaikan secara lisan
di akademia-nya. Di satu sisi ia masih mempercayai beberap mitos yang
digunakan olehnya untuk mengemukakan dugaan-dugaan mengenai hal-hal
duniawi. Ia banyak dipengaruhi oleh gurunya, Socrates dalam
pemikirannya.
Idea merupakan inti dasar dari seluruh filasaft yang diajarkan oleh
Plato. Ia beranggapan bahwa idea merupakan suatu yang objektif, adanya
idea terlepas dari subjek yang berfikir. Idea tidak diciptakan oleh
pemikiran individu, tetapi sebaliknya pemikiran itu tergantung dari
idea-idea. Ia memberikan beberapa contoh seperti segitiga yang
digambarkan di papan tulis dalam berbagai bentuk itu merupakan gambaran
yang merupakan tiruan tak sempurna dari idea tentang segitiga. Maksudnya
adalah berbagai macam segitiga itu mempunyai satu idea tentang segitiga
yang mewakili semua segitiga yang ada.
Dalam menerangkan idea ini Plato menerangkan dengan teori dua dunianya,
yaitu dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan
pancaindera, sifat dari dunia ini tidak tetap terus berubah, dan tidak
ada suatu kesempurnaan. Dunia lainnya adalah dunia idea, dan dunia idea
ini semua serba tetap, sifatnya abadi dan tentunya serba sempurna.
Idea mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmani. Hubungan antara idea
dan realitas jasmani bersifat demikian rupa sehingga benda-benda
jasmani tidak bisa berada tanpa pendasaran oleh idea-idea itu. Hubungan
antara idea dan realitas jasmani ini melalui 3 cara, pertama, idea hadir
dalam benda-benda konkrit. Kedua, benda konkrit mengambil bagian dalam
idea, disini Plato memperkenalkan partisipasi dalam filsafat. Ketiga,
Idea merupakan model atau contoh bagi benda-benda konkrit. Benda-benda
konkrit itu merupakan gambaran tak sempurna yang menyerupai model
tersebut.
Plato menganggap bahwa jiwa merupakan pusat atau intisari kepribadian
manusia, dan pandangannya ini dipengaruhi oleh Socrates, Orfisme dan
mazhab Pythagorean. Salah satu argumen yang penting ialah kesamaan yang
terdapat antara jiwa dan idea-idea, dengan itu ia menuruti
prinsip-prinsip yang mempunyai peranan besar dalam filsafat. Jiwa memang
mengenal idea-idea, maka atas dasar prinsip tadi disimpulkan bahwa
jiwapun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan idea-idea, jadi sifatnya
abadi dan tidak berubah.
Plato mengatakan bahwa dengan kita mengenal sesuatu benda atau apa yang
ada di dunia ini sebenarnya hanyalah proses pengingatan sebab menurutnya
setiap manusia sudah mempunyai pengetahuan yang dibawanya pada waktu
berada di dunia idea, dan ketika manusia masuk ke dalam dunia realitas
jasmani pengetahuan yang sudah ada itu hanya tinggal diingatkan saja,
maka Plato menganggap juga seorang guru adalah mengingatkan muridnya
tentang pengetahuan yang sebetulnya sudah lama mereka miliki.
Ajaran Plato tentang etika kurang lebih mengatakan bahwa manusia dalam
hidupnya mempunyai tujuan hidup yang baik, dan hidup yang baik ini dapat
dicapai dalam polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani Kuno yaitu
hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam polis, ia
menolak bahwa negara hanya berdasarkan nomos/adat kebiasaan saja dan
bukan physis/kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa
manusia menurut kodratnya merupakan mahluk sosial, dengan demikian
manusia menurut kodratnya hidup dalam polis atau negara.
Menurut Plato negara terbentuk atas dasar kepentingan yang bersifat
ekonomis atau saling membutuhkan antara warganya maka terjadilah suatu
spesialisasi bidang pekerjaan, sebab tidak semua orang bisa mengerjakaan
semua pekerjaan dalam satu waktu. Polis atau negara ini dimungkinkan
adanya perkembangan wilayah karena adanya pertambahan penduduk dan
kebutuhanpun bertambah sehingga memungkinkan adanya perang dalam
perluasan ini.
Dalam menghadapi hal ini maka di setiap negara harus memiliki
penjaga-penjaga yang harus dididik khusus. Mereka harus mempelajari,
senam yang lebih umum dan keras dan sebaiknya dilakukan paa usia 18 20
tahun. Dari sini diseleksi lagi untuk dijadikan calon pemimpin politik,
dan untuk membentuk pemimpin in mereka harus belajar filsafat hingga
usia 30 tahun, tujuan belajar filsafat ini untuk melatih mereka dalam
mencari kebenaran. Dari sini diseleksi lagi dan mereka yang lulus
seleksi akan mempelajari filsafat dan dialektika secara lebih intensif
selama 5 tahun. Dan jika dalam pendidikan ini berhasil maka selama 15
tahun ia menduduki beberapa jabatan negara yang tujuannya agar mereka
tahu pekerjaan-pekerjaan negara. Dan pada usia 50 tahun baru mereka siap
menjadi seorang pemimpin.
Ada tiga golongan dalam negara yang baik, yaitu pertama, Golongan
Penjaga yang tidak lain adalah para filusuf yang sudah mengetahui yang
baik dan kepemimpinan dipercayakan pada mereka. Kedua, Pembantu atau
Prajurit. Dan ketiga, Golongan pekerja atau petani yang menanggung
kehidupan ekonomi bagi seluruh polis.
Plato tidak begitu mementingkan adanya undang-undang dasar yang bersifat
umum, sebab menurutnya keadaan itu terus berubah-ubah dan peraturan itu
sulit disama-ratakan itu semua tergantung masyarakat yang ada di polis
tersebut.
Adapun negara yang diusulkan oleh Plato berbentuk demokrasi dengan
monarkhi, karena jika hanya monarkhi maka akan terlalu banyak kelaliman,
dan jika terlalu demokrasi maka akan terlalu banyak kebebasan, sehingga
perlu diadakan penggabungan, dan negara ini berdasarkan pada pertanian
bukan perdagangan. Hal ini dimaksudkan menghindari nasib yang terjadi di
Athena.
ARISTOTELES
 |
| 'Aριστοτέλης Aristotélēs (384 SM – 322 SM) |
Aristoteles lahir di Stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia,
Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia Tengah) tahun 384 SM.
Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Pada usia 17
tahun, Aristoteles bergabung menjadi murid Plato. Belakangan ia
meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun.
Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan
menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia. Saat Alexander berkuasa di
tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari
Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama
Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM.
Filsafat Aristoteles berkembang pada waktu ia memimpin Lyceum, yang
mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap
sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di
bidang metafisika, fisika, etika, politik, kedokteran dan ilmu alam.
Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan
mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Karyanya
ini menggambarkan kecenderungannya akan analisa kritis, dan pencarian
terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Plato menyatakan teori
tentang bentuk-bentuk ideal benda, sedangkan Aristoteles menjelaskan
bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis).
Selanjutnya ia menyatakan bahwa bentuk materi yang sempurna, murni atau
bentuk akhir, adalah apa yang dinyatakannya sebagai theos, yaitu yang
dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.
Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive
reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar
dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam
penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen
dan berpikir induktif (inductive thinking).
Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal
adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarkhi. Karena luasnya
lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap
berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi
bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti fisika, astronomi,
biologi, psikologi, metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip
awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika,
politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.
Meskipun sebagian besar ilmu pengetahuan yang dikembangkannya terasa
lebih merupakan penjelasan dari hal-hal yang masuk akal (common-sense
explanation), banyak teori-teorinya yang bertahan bahkan hampir selama
dua ribu tahun lamanya. Hal ini terjadi karena teori-teori tersebut
karena dianggap masuk akal dan sesuai dengan pemikiran masyarakat pada
umumnya, meskipun kemudian ternyata bahwa teori-teori tersebut salah
total karena didasarkan pada asumsi-asumsi yang keliru.
Dapat dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada
pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan
pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo
Thomas Aquinas pada abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides
(11351204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (11261198). Bagi
manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai
sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga
dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau "the master of
those who know", sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante
Alighieri.
ALEXANDER YANG AGUNG (DZULQARNAIN) Alexander the Macedon
Alexander Yang Agung, penakluk yang kesohor dari dunia
silam itu dilahirkan di Pello tahun 356 SM, ibukota
Macedonia. Ayahnya, Raja Philip II dari Macedonia seorang
yang punya kesanggupan dan berpandangan jauh. Philip
memperbesar dan mengorganisir Angkatan Bersenjata Macedonia
dan mengubahnya menjadi kekuatan tempur yang bermutu tinggi.
Pertama kali penggunaan Angkatan Bersenjata pilihan ini
adalah waktu ia menaklukkan daerah sekitar hingga sampai ke
utara Yunani, kemudian berbalik ke selatan dan menaklukkan
hampir seluruh Yunani. Kemudian Philip membentuk federasi
kota-kota Yunani dan dia sendiri jadi pemimpinnya. Tatkala
dia lagi merancang rencana penyerangan terhadap Kekaisaran
Persia yang luas itu yang berada di sebelah timur
Yunani-bahkan penyerbuan sudah mulai terjadi di tahun 336
SM-Philip terbunul, tatkala usianya baru mencapai empat
puluh enam tahun.
Umur Alexander baru dua puluh tahun tatkala ayahnya mati
tetapi tanpa kesulitan dia menggantikan naik tahta. Philip
dengan cermat jauhjauh hari sudah melakukan persiapan untuk
penggantinya dan si Alexander muda sudah punya pengetahuan
dan pengalaman kemiliteran yang lumayan. Dalam hal
pendidikan intelektual pun Philip tidak mengabaikannya. Guru
buat Alexander disediakan ayahnya seorang yang istimewa:
Aristoteles, seorang yang mungkin paling cendikiawan dan
filosof yang paling termasyhur di dunia masa itu.
Baik di Yunani maupun daerah-daerah belahan sebelah
utara, penduduk yang ditaklukkan Philip memandang kematian
Philip merupakan kesempatan bagus untuk menghalau dan
menumbangkan kekuasaan cengkeraman Macedonia. Tetapi, hanya
dalam tempo dua tahun sesudah naik tahta, Alexander sudah
mampu mengatasi kedua daerah itu. Sesudah itu perhatian
dialihkan ke Persia.
Selama dua ribu tahun bangsa Persia menguasai wilayah
yang amat luas, membentang mulai dari Laut Tengah hingga
India. Kendati Persia tidak lagi berada dalam puncak
kehebatannya, namun masih tetap merupakan lawan yang tangguh
dan disegani, kekaisaran yang paling luas, paling kuat dan
paling kaya di muka bumi.
Alexander melancarkan serangan pertamanya ke Persia tahun
334 SM. Karena dia harus menyisihkan sebagian pasukannya di
dalam negeri untuk memelihara dan mengawasi inilik Eropanya,
Alexander cuma punya 35 000 tentara yang menyertainya
tatkala dia melakukan petualangan berani matinya, suatu
jumlah kecil tak berarti jika dibandingkan dengan kekuatan
Angkatan Bersenjata Persia. Di samping sejumlah kemalangan
yang menimpanya, Alexander memenangkan serentetan kemenangan
dalam gempurannya terhadap pasukan Persia. Ada tiga faktor
yang menjadi sebab kemenangannya. Pertama, pasukan yang
ditinggalkan ayahandanya, Philip, betul-betul terlatih dan
terorganisir baik, lebih baik dari pasukan Persia. Kedua,
Alexander sendiri seorang panglima perang yang genius,
mungkin paling genius di sepanjang jaman. Ketiga, keberanian
Alexander sendiri. Meskipun dia memimpin tahap-tahap pertama
pertempuran belakang garis front, keputusan Alexander adalah
memimpin sendiri pasukan berkuda yang memberi pukulan
menentukan. Ini merupakan cara yang penuh resiko dan dia
sering terluka dalam pertempuran macam begini. Tetapi
pasukannya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa
Alexander betul-betul tidak kepalang tanggung menghadapi
bahaya dan tak mau membebankan risiko pada pundak orang
lain. Hal ini membawa akibat langsung dalam hal peningkatan
moral prajurit yang meyakinkan.
Pertama Alexander memimpin pasukannya menerjang Asia
Kecil, menghajar habis pasukan kecil Persia yang ditempatkan
di situ. Kemudian dia bergerak menuju utara Suriah,
menggilas pasukan besar Persia di kota Issus. Rampung ini
dia balik badan menyerbu arah selatan, dan sesudah terlibat
pertempuran berat dan sulit sepanjang tujuh bulan, dia
berhasil menaklukkan kota pulau Phoenicia Tyre yang kini
bernama Libanon. Tatkala Alexander sedang bertempur di Tyre,
dia terima pesan dari Raja Persia mengwarkan separo
kerajaannya buat Alexander asal saja Alexander bersedia
menyetujui perjanjian perdamaian. Salah seorang jendral
Alexander, Parmenio, mengganggap tawaran bagus dan layak
diterima. "Jika aku Alexander, tawaran itu kuterima." Apa
jawab Alexander? "Begitu pula aku, andaikata aku ini bernama
Parmenio."
Sesudah Tyre jatuh, Alexander meneruskan gerakannya ke
selatan. Gaza jatuh sesudah bertempur selama dua bulan.
Mesir menyerah tanpa pertempuran apa pun. Sesudah menduduki
Mesir, Alexander menetap sebentar sekedar memberi waktu
istirahat bagi prajurit-prajuritnya. Di negeri itu, kendati
umurnya baru dua puluh empat tahun, dia diberi anugerah
gelar Firaun dan dinobatkan sebagai dewa. Sesudah dirasa
cukup istirahat, Alexander dan pasukannya bergerak lagi
kembali ke daratan Asia, dan dalam pertempuran hidup-mati
yang menentukan di Arbela tahun 331 SM, dia sepenuhnya sudah
melumpuhkan sebagian terbesar balatentara Persia.
Sesudah kemenangan gemilang itu Alexander memboyong
tentaranya ke Babylon dan menerobos masuk ke kota-kota
Persia, Suso dan Persepolis. Raja Persia Darius III
(bukannya pendahulunya Darius Yang Agung) dibunuh oleh
opsir-opsirnya di tahun 330 SM untuk mencegahnya menyerah
kepada Alexander. Walau begitu, Alexander mengalahkan dan
membunuh pengganti Darius, dan dalam pertempuran selama tiga
tahun, dia sudah menaklukkan semua belahan timur negeri Iran
dan mendesak terus ke Asia Tengah.
Dengan segenap Kekaisaran Persia berada di bawah tclapak
kakinya, Alexander selayaknya ambil keputusan kembali pulang
ke negerinya dan mengorganisir daerah kekuasaannya. Tetapi,
haus penaklukannya tak tertahankan lagi, karena itu dia
meneruskan labrakannya ke Afganistan. Dari situ dia pimpin
tentaranya melintasi pegunungan Hindu Kush menuju India. Dia
peroleh serentetan kemenangan besar di bagian barat India
dan bermaksud melanjutkan serangannya ke bagian timur India.
Tetapi, pasukannya sudah lelah dan ngos-ngosan akibat
bertempur bertahun-tahun, dan menolak meneruskan penyerbuan.
Maka dengan ogah-ogahan Alexander kembali ke Persia.
Sesudah kembali ke Persia, Alexander menghabiskan waktu
sekitar setahun mengorganisir tentara dan wilayah kekaisaran
yang dikuasainya. Alexander dibesarkan bersama keyakinan
bahwa kebudayaan Yunani adalah satu-satunya kebudayaan yang
unggul dan jempol dan semua bangsa yang bukan Yunani tak
lain tak bukan adalah bangsa barbar. Keyakinan itu sudah
barangtentu tersebar meluas di seluruh alam pikiran dan
dunia Yunani, bahkan Aristoteles sendiri berpendapat begitu.
Tetapi, lepas dari keberhasilannya menumpas habis tentara
Persia, Alexander sadar bangsa Persia samasekali bukan
bangsa barbar, dan orang-orang Persia bisa saja sama mampu
dan sama pandai dengan orang Yunani. Oleh karena itu
Alexander mengandung niat untuk menggabung kedua kekaisaran
itu jadi satu, dan dijelmakannya dengan pembentukan gabungan
budaya dari kerajaan Graeco-Persia dengan dia sendiri tentu
saja berada di atas tampuk pimpinan penguasa. Sejauh yang
dapat kita pastikan, dia betul-betul berkehendak agar bangsa
Persia merupakan partner sederajat dengan bangsa Yunani dan
Macedonia. Dalam rangka melaksanakan rencana ini, dia
memasukkan banyak sekali orang Persia ke dalam Angkatan
Bersenjatanya. Dia juga mengadakan pesta apa yang disebutnya
"Perkawinan Barat dan Timur" di mana ribuan tentara
Macedonia secara resmi mengawini puteri-puteri Asia. Dia
sendiri, walaupun sudah mempersunting istri seorang gadis
bangsawan Asia sebelumnya, kawin lagi dengan puteri
Darius.
Gamblang sekali, Alexander bermaksud melakukan tambahan
penaklukan dengan Angkatan Bersenjata yang sudah diorganisir
kembali ini. Kita tahu, dia bennaksud menaklukkan Arabia,
dan mungkin juga wilayahwilayah yang terletak di belahan
utara Persia. Dan mungkin dia sudah punya rencana menduduki
India atau menyerbu Roma, Carthago dan bagian-bagian Laut
Tengah. Betapapun rencana itu sudah tersusun, yang jelas tak
ada penaklukan-penaklukan berikutnya lagi. Di awal bulan
Juni tahun 323 SM tatkala Alexander berada di Babylon,
tiba-tiba dia terserang demam dan dia meninggal dunia
sepuluh hari kemudian. Saat itu umurnya belum lagi mencapai
tiga puluh tiga tahun.
Alexander tidak menunjuk penggantinya, dan segera sesudah
dia tiada mulailah terjadi perebutan kekuasaan. Dalam
pergumulan ini, bundanya, istrinya, anak-anaknya semuanya
terbunuh. Kerajaannya dibagi diantara para jendralnya.
Karena Alexander mati dalam usia amat muda dan tak pernah
terkalahkan, banyak spekulasi apakah gerangan yang akan
terjadi andaikata usianya panjang. Apabila dia membawa
pasukannya menyerbu dan menaklukkan daerah-daerah sebelah
barat Laut Tengah, besar kemungkinan dia akan berhasil, dan
dalam hal ini seluruh sejarah Eropah Barat akan mengalami
perubahan besar-besaran. Tetapi spekulasi ini-betapapun
menariknya tak ada hubungannya dengan sukses-sukses
sesungguhnya yang sudah dicapainya.
Daerah Kekaisaran Alexander Yang Agung
Alexander mungkin seorang tokoh yang teramat dramatis
dalam sejarah, karier dan pribadinya tetap jadi sumber
kekaguman. Bukti-bukti kesuksesan kariernya cukup dramatis
dan berlusin dongeng bermunculan menyangkut namanya. Dan
jelas sekali sudah menjadi ambisinya menjadi pendekar dan
penakluk terbesar sepanjang jaman, dan tampaknya memang
layak dia peroleh julukan itu. Selaku pejuang individual,
pada dirinya tercakup kemampuan dan keberanian. Sebagai
seorang jenderal, dia teramat ulung, karena selama sebelas
tahun pertempuran, tak pernah barang sekali pun dia
kalah.
Berbarengan dengan itu, dia seorang intelektual yang
belajar di bawah asuhan Aristoteles dan menguasai
sajak-sajak Homer. Dalam hal merealisir gagasan bahwa bangsa
yang bukan Yunani tidaklah mesti bangsa barbar, jelas
menunjukkan bahwa pikirannya punya daya jangkau lebih jauh
ketimbang sebagian besar pemikir-pemikir Yunani saat
itu.
Tetapi, di lain pihak Alexander punya pandangan cupet.
Meski berulang kali dia menghadapi risiko dalam pertempuran,
dia tidak mempersiapkan penggantinya. Keteledoran inilah
yang menjadi penyebab begitu cepatnya kerajaannya hancur
berantakan sesudah dia tutup usia.
Alexander dianggap besar kemungkinan berwajah rupawan,
dan dia sering amat bermurah hati kepada musuh yang
dikalahkannya. Di lain pihak, dia juga seorang "egomaniac"
dan bertabiat kejam. Pada suatu peristiwa, dalam suatu
pertengkaran dalam keadaan slebor, dia membunuh teman
akrabnya, Clertus, seorang yang pernah menyelamatkan
jiwanya.
Seperti halnya Napoleon dan Hitler, Alexander punya
pengaruh luar biasa terhadap generasinya. Masa pengaruhnya
yang singkat, lebih ringkas dari mereka, semata-mata
lantaran terbatasnya sarana untuk perjalanan kian-kemari
serta komunikasi pada saat itu m_ embatasi dan memperkecil
pengaruhnya terhadap dunia.
Dalam jangka panjang, pengaruh terpenting dari penaklukan
yang dilakukan Alexander adalah mendekatkan kebudayaan
Yunani dengan Timur Tengah, sehingga masing-masing mendapat
faedah untuk menambah dan mempertinggi kebudayaan
masing-masing. Selama dan segera sesudah karier Alexander,
kebudayaan Yunani dengan cepat tersebar ke Iran,
Mesopotamia, Suriah, Yudea, dan Mesir. Sebelum Alexander,
kebudayaan Yunani memang sudah merasuk ke daerah-daerah ini
tetapi
dengan lambat sekali. Juga, Alexander menyebarkan
pengaruh kebudayaan Yunani ke India dan Asia Tengah, daerah
yang belum terjamah sebelumnya. Tetapi, pengaruh kultural
bukanlah berarti hanya berlaku sepihak dan satu jurusan.
Dalam masa abad Hellenistik (abad-abad segera sesudah
langkah-langkah Alexander) gagasan-gagasan Timur-khususnya
gagasan keagamaan-tersebar ke dunia Yunani. Dengan
kebudayaan Hellenistik ini memang tampaknya Yunani dominan
tetapi sebenarnya pengaruh pikiran Timur besar sekali pada
saat itu mempengaruhi Roma.
Dalam jangka perjalanan kariernya, Alexander mendirikan
lebih dari dua puluh satu kota baru. Yang paling masyhur
dari semua itu adalah Alexandria (Iskandariah) di Mesir yang
dalam tempo cepat menjadi kota terkemuka di dunia dan
merupakan pusat budaya dan pendidikan yang kesohor.
Lain-lainnya seperti Herat dan Kandahan di Afganistan juga
berkembang jadi kota-kota penting.
Alexander, Napoleon, dan Hitler rasanya punya persamaan
dalam bobot pengaruhnya secara umum. Orang akan berkesan,
bagaimanapun juga, pengaruh kedua orang yang disebut
belakangan daya tahannya lebih pendek ketimbang Alexander.
Atas dasar itulah dia dapat tempat urutan sedikit lebih
atas.
NABI KHIDIR AS.
Bahwa Nabi Khidir itu berumur panjang dan masih hidup sampai sekarang
masih diyakini sebagian besar kaum muslimin pada umumnya, khususnya
umat muslimin Islam tradisional di Indonesia.Kisah-kisah tentang Nabi
Khidir ii terus menarik perhatian semua orang karena keunikannya.
Berikut ini di tuturkan kisah asal mula Nabi Khidir bisa berumur panjang, walau semua itu tidak lepas dari kehendak Allah SWt.
Kisah ini diriwayatkan ole Ats-tsa labi dari imam Ali, yang bermula dari
Raja Iskandar Zulkarnain yang disebut The Great Alexander (Iskandar
yang agung). Sebutan The Great Alexander kepada Raja Iskandar Zulkarnain
karena beliau adalah seorang kaisar yang mampu menaklukkan dunia barat
dan timur.Beliau disegani dan ditakuti orang di seluruh dunia pada
zamannya.Walau demikian, posisi ini tidak menjadikan beliau sombong,
beliau adalah salah seorang raja yang beriman dan bertakwa kepada Allah
SWT.
Suatu ketika raja Iskandar Zulkarnain pada tahun 322 SM berjalan di
atas bumi menuju ke tepi bumi (istilah ke tepi bumi ini disebut orang
sebelum Columbus menemukan benua Amerika pada tahun 1492 pada saat itu
anggapan orang bumi itu tidak bulat). Allah mewakilkan seorang malaikat
yang bernama Rafa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Zulkarnain.
Di
tengah perjalanan mereka berbincang-bincang dan raja Iskandar
Zulkarnain berkata kepada malaikat Rafa’il : “wahai malaikat Rafa’il
ceritakanlah kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit.” Malaikat
Rafa’il berkata:”ibadah para malaikat di langit di antaranya ada yang
berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya. Ada yang sujud tidak
mengangkat kepala selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak
mengangkat kepala selama-lamanya.” Mendengar keterangan ini Raja
termenung. Dalam benaknya timbul keinginan bisa melakukan hal yang sama
seperti malaikat. Niatnya hanya satu agar dapat beribadah kepada Allah.
Lalu malaikat Rafa’il berkata: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan
sumber air di bumi, namanya Ainul hayat yang artinya sumber air hidup,
maka barang siapa yang meminumnya seteguk,maka tidak akan mati sampai
hari kiamat atau sehingga ia memohon kepada Allah agar supaya
dimatikan.”
Kemudian raja bertanya kepada malikat Rafa’il:” apakah kau tahu dimana
tempat ainul hayat itu.” Malaikat rafa’il menjawab: “ Bahwa sesungguhnya
Ainul hayat itu berada di bumi yang gelap.”Setelah raja mendengar
keterangan dari malaikat Rafa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera
mengumpulkan alim ulama pada zaman itu. Raja bertanya kepada mereka
tentang Ainul hayat itu tetapi mereka menjawab: kita tidak tahu
kabarnya, namun ada seorang yang alim di antara mereka menjawab :”
sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau
berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat itu di bumi yang
gelap.” Dimanakah tempat bumi yang gelap itu ? Tanya raja. Dan dijawab,
yaitu di tempat keluarnya matahari.
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja
bertanya kepada sahabatnya: “ kuda apa yang sangat tajam penglihatannya
di waktu gelap? Dan sahabat menjawab, yaitu kuda betina yang perawan.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang masih perawan,
lalu raja memilih di antara tentaranya yang sebanyak 6000 orang dipilih
yang cendekiawan dan yang ahli mencambuk.
Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya.
Setelah menempuh perjalanan jauh maka mereka jumpai dalam
perjalanan,bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun,
sehingga sampai di tepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu
seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam.
Kemudian seorang yang sangat cendekiawan mencegah raja masuk ke
tempat gelap itu dan tentara-tentaranya berkata kepada raja. “ Wahai
raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk ke
tempat gelap ini karena tempat ini gelap dan berbahaya “. Raja berkata :
“Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak “. Kemudian raja hendak
masuk, maka mereka semua membiarkannya siapakah yang berani membantah
perintah maharaja yang disegani dunia barat dan dunia timur. Kemudian
raja berkata kepada pasukannya : “ Diamlah, kalian di tempat ini selama
12 tahun, jika aku bisa datang kepada kalian dalam masa 12 tahun itu
maka kita pulang bersama, jika aku tidak datang selama 12 tahun maka
pulanglah kembali ke negeri kalian.
Kemudian raja berkata kepada Malaikat Rifail : “ Apabila kita
melewati tempat yang gelap ini apakah kita dapat melihat kawan-kawan
kita ? “. “ Tidak bisa kelihatan “ , jawab Malaikat Rifail : “ Akan
tetapi aku memberimu sebuah mutiara, jika mutiara itu ke atas bumi maka
mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras dengan demikian
maka teman-teman kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian”
. Kemudian Raja Zulkarnain masuk ke tempat tersebut dengan didampingi
oleh Nabi Khidir. Disaat mereka jalan Allah memberikan wahyu kepada Nabi
khidir As, “ Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan
jurang dan Ainul Hayat itu Aku khususkan untuk kamu “. Setelah Nabi
Khidir menerima wahyu tersebut kemudian beliau berkata kepada
sahabat-sahabatnya : “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing
dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang
kepada kalian “.
Lalu beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang maka didapatilah
oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidir
turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun dari
kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “ Ainul
Hayat “ ( sumber air hidup ) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum
sumber air hidup tersebut maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis
dibanding madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut
terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain sedangkan raja tidak pernah tahu
apa yang terjadi pada Nabi Khidir As yaitu pada saat Nabi Khidir
melihat Ainul Hayat dan mandi.
Raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu
selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat maka
terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdenganr oleh Raja
suara gemericik di bawah kaki kuda. Kenudian Raja berkata kepada
Malaikat Rafail “ Suara apakah yang gemerincing di bawah kaki kuda
tersebut ? “, Malaikat Rafail menjawab : “ gemericik adalah suara benda
apabila seseorang mengambilnya niscaya ia akan menyesal dan apabila
tidak mengambilnya niscaya ia akan menyesal juga. Suara gemericik itu
membuat orang jadi penasaran namun semua orang ragu-ragu dalam mentukan
sikapnya, mengambil benda itu atau tidak ?. Kemudian diantara pasukan
ada yang mengambilnya namun hanya sedikit setelah mereka keluar dari
tempat yang gelap itu ternyata bahwa benda tersebut adalah permata yakut
berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau; maka menyesallah
pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, apalagi
para pasukan yang tidak mengambilnya pasti lebih menyesal lagi kenapa
mereka begitu bodoh tidak mengambil permata yang mahal harganya itu.
Demikianlah kisah asal mula Nabi Khidir berumur panjang. Bukti bahwa
Nabi Khidir berumur panjang adalah dari adanya kisah-kisah yang
menyebutkan bahwa beliau sudah ada sejak zaman Nabi Musa As, lalu beliau
juga pernah bertemu dengan Rosullullah SAW dan bahkan pernah berguru
Ilmu Fiqih kepada Imam Anu Hanifah.
Perjalanan Khidr dan Musa
Demikianlah
seterusnya Musa mengikuti Khidir dan terjadilah beberapa peristiwa
yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahawa baginda tidak akan
bertanya sebab sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khidir. Setiap
tindakan Nabi Khidir a.s. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa
terperanjat.
Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang
ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya
untuk bertanya kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir memperingatkan janji
Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf karena kalancangannya
mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi
Khidir.
Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir
membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya.
Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat
Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir.
Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi
kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu
yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa
harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah
perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk
sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau
menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal
terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir
malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu
rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali
untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki
tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khidir
menegaskan pada Nabi Musa bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa
untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus
melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidir.
Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal
yang membuat Nabi Musa bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khidir
menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki
oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang
suka merampas perahu miliki rakyatnya.
Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh
seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan
jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi
orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak
yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak
cucunya.
Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah
yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim
yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta
benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini
telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok
rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan
tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian
besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut
masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya.
Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki.
Akhirnya Nabi Musa as. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah
dikerjakan Nabi Khidir. Akhirya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat
bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba
Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat
dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh
Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang
bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan
menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa dan Nabi Musa
menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.
Saat mereka didalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung
lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan
paruhnya, lalu Nabi Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding
dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air
laut ini karena diteguk sedikit airnya oleh burung ini.”
Sebelum berpisah, Khidir berpesan kepada Musa: “Jadilah kamu seorang
yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah
dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu
melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah
dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan,
wahai Ibnu `Imran.”
Hikmah kisah Khidir
Dari
kisah Khidir ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Diantaranya
adalah Ilmu merupakan karunia Allah SWT, tidak ada seorang manusia pun
yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang
lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugrah dari Allah
SWT yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (Ilmu
Ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih
dan terpilih)
Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru
untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami.
Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya.
Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal
hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari
guru. Kisah Nabi Khidir ini juga menunjukan bahwa Islam memberikan
kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.
NABI MUSA (MOSES)
Musa (bahasa Ibrani: מֹשֶׁה Mošé; bahasa Tiberia:
Mōšeh; bahasa Arab: موسى, Mūsā; bahasa Ge'ez: ሙሴ Musse)
(sekitar 1527-1408 SM) adalah seorang nabi
yang menyampaikan Hukum Taurat dan menuliskannya dalam Pentateveh/Pentateukh
(Lima Kitab Taurat). Musa adalah anak Amram dari suku Lewi,
anak Yakub bin Ishak. Ia diangkat menjadi nabi sekitar tahun
1450 SM. Ia ditugaskan untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Namanya disebutkan sebanyak 873
kali dalam 803 ayat dalam 31 buku di Alkitab Terjemahan Baru[10]
dan 136 kali di dalam Al-Quran. Ia memiliki orang 2 anak (Gersom dan Eliezer)
dan wafat di Tanah Tih (Gunung Nebo).
Pandangan Yahudi dan
KeKristenan
Musa adalah seseorang yang diutus oleh Allah untuk
pergi membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan menuntun mereka pada
tanah perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham, yaitu tanah Kanaan.
Musa harus melewati berbagai macam rintangan sebelum
akhirnya benar-benar menerima mandat sebagai orang yang diutus oleh Allah untuk
membebaskan bangsa Israel, seperti misalnya hampir dibunuh ketika ia masih
bayi, dikejar-kejar oleh Firaun, sampai harus menjalani hidup sebagai
pengembala di Midian selama 40 tahun . Itu semua diijinkan Tuhan untuk
membentuk karakternya, sampai akhirnya Tuhan menemuinya sendiri dalam peristiwa
semak belukar yang terbakar namun tidak dapat habis terbakar.
Ketika Musa sudah menerima mandat untuk membebaskan
bangsa Israel, kuasa Tuhan mulai menyertai Musa, ditandai dengan adanya
mujizat-mujizat yang diadakan oleh Tuhan melalui Musa, baik ketika masa
pembebasan Israel dengan tulah-tulah, maupun ketika masa perjalanan bangsa
Israel ke Kanaan.
Pada akhirnya, Musa tidak sampai memimpin bangsa
Israel masuk ke tanah tersebut, oleh karena kesalahan perkataan Musa di Mara
yang disebabkan oleh betapa pahit hati Musa menghadapi orang Israel. Musa hanya
mengantarkan orang Israel sampai ke tepi sungai Yordan di mana di seberang
sungai tersebut terletak Kanaan, tanah yang dijanjikan tersebut. Musa akhirnya
digantikan oleh abdinya yang setia yaitu Yosua,
yang pada akhirnya berhasil memimpin bangsa Israel masuk tanah Kanaan.
Garis waktu kehidupan Musa adalah sebagai
berikut:
- Musa
dilahirkan setelah Yusuf meninggal, di
dalam pemerintahan Firaun.
- Musa
berasal dari suku Lewi.
Etimologi
Menurut Kitab Kejadian, nama Musa berarti "diangkat dari
air". Beberapa ahli kitab masih mempercayai bahwa "air" di
Alkitab seringkali merupakan metafora yang menunjuk kepada bangsa kafir,
setan (sebuah pemahaman yang dapat dimengerti untuk seorang
pengembara di padang gurun), dan keduniawian.[rujukan?] Maka
itu, nama Musa menyimbolkan sebuah harapan keselamatan dari setan oleh Tuhan(?)
selama Tuhan menuntun mereka ke tanah perjanjian. Musa juga memimpin bangsa
Israel melewati Laut Merah, yang mana itu juga menunjukkan
penyelamatan dari air.
Dalam Hubungannya
Dengan Kebudayaan Mesir
- Beberapa
ahli kitab Yahudi[rujukan?]
mempercayai bahwa nama Musa yang sesungguhnya adalah versi bahasa Mesir
dari "diangkat (dari air)", dan kemudian itu diserap ke dalam
bahasa Yahudi, entah melalui tulisan dalam Alkitab, atau oleh Musa sendiri
kemudian.
- Banyak
ahli kitab modern[rujukan?]
mempercayai bahwa putri Firaun mungkin memberikan namanya dari bahasa
Mesir "Mose"/"Mese", yang artinya "anak"
atau "keturunan" atau "pemberian"; contohnya:
"Thutmose" berarti "anak dari Thoth", dan Rameses berarti "anak yang diberi
oleh Ra".
- Banyak
ahli kitab[rujukan?]
yang mempercayai bahwa Musa sesungguhnya memiliki nama lengkap dalam
bahasa Mesir, dengan nama utama "Mose"/"Mese" dan
digabung dengan nama dewa Mesir (mirip seperti Rameses), tapi nama dewa
itu kemudian ditanggalkan, entah pada saat dia menggabungkan diri ke dalam
budaya Israel, atau oleh penulis-penulis selanjutnya, yang merasa
terganggu dengan fakta bahwa Nabi mereka memiliki nama Mesir yang
sedemikian.
- Dalam
bahasa Mesir kuno, kata "Mo" itu berarti "Air, sementara
kata "Sa" berarti "Anak". Nama lengkapnya
"Mosa" berarti "anak dari air", seperti fakta bahwa
dia ditemukan dalam keranjang di atas air.
Lain-lain
Dari antara orang-orang Aram
dan Neo-Hitit, penduduk di Sam'al Utara, Yaudi, menyebutkan bahwa ada
jejak-jejak kebudayaan nenek moyang pahlawan Moschos, menunjuk kepada pahlawan
Yunani Mopsus (yang mana
namanya berarti "anak sapi" yang memiliki beberapa kesamaan dengan
Musa [11] kesamaan-kesamaan ini hanya tetang berada di lokasi
yang sama dan memiliki nama yang sama.
Latar Belakang
Sebelum terjadinya perbudakan Israel, bangsa Israel
hidup senang di tanah Mesir, selama bangsa Mesir berada di bawah pemerintahan
Yusuf, yang adalah orang Israel. Yusuf merupakan orang Israel yang dijual ke
tanah Mesir oleh saudara-saudaranya oleh karena iri hati. Namun oleh karena
pertolongan Tuhan, Yusuf dapat melalui itu semua dan pada akhirnya menjadi
penguasa tingkat dua mesir, setingkat langsung di bawah firaun yang waktu itu
berkuasa. Firaun memberikan kuasa dan kepercayaan penuh kepada Yusuf untuk
melakukan apapun yang dianggap Yusuf baik bagi Mesir, dan kemudian Yusuf
memboyong keluarganya pindah ke tanah Mesir, karena di Kanaan tempat
keluarganya dahulu berdiam terjadi kelaparan hebat. Itulah penyebab awal mula
bangsa Israel dapat tinggal di Mesir. Musa adalah anak Amram dan Yokhebed,
saudara dari ayah Amram yaitu Kehat, yang adalah kaum suku Lewi. Musa memiliki
dua orang saudara, yaitu Miriam dan Harun. Musa dilahirkan di dalam
pemerintahan Firaun. Setelah beberapa waktu, Yusuf pun meninggal. Dan
berkuasalah seorang Firaun yang tidak mengenal Yusuf. Firaun ini khawatir dan
cemas akan perkembangan jumlah bangsa Israel yang begitu besar jumlahnya,
bahkan sudah melebihi jumlah dari bangsa Mesir sendiri. Firaun khawatir bangsa
Israel suatu saat akan membelot dan bersekutu dengan tentara musuh ketika
bangsa Mesir sedang menghadapi peperangan.
Oleh karena itu, Firaun melakukan hal-hal ini untuk
menekan laju pertumbuhan penduduk Israel:
- menempatkan
pengawas-pengawas rodi untuk menindas bangsa Israel dengan paksa.
- menyuruh
bidan-bidan yang membantu bangsa Israel bersalin untuk membunuh setiap
bayi yang dilahirkan begitu keluar dari kandungan, apabila bayi tersebut
laki-laki.
- menyuruh
pengawalnya membunuh melemparkan semua bayi laki-laki yang ditemui ke
sungai Nil.
Namun segala hal tersebut ternyata tidak dapat menekan
angka pertumbuhan penduduk Israel, bahkan semakin bertambah banyak.
Pada saat itu, Yokhebed, ibu Musa, melahirkan Musa,
dan kelahiran itu dirahasiakan. Namun sesudah tiga bulan, Yokhebed tidak mampu
merahasiakannya lagi. Oleh karena itu, Yokhebed mengambil sebuah keranjang
pandan. Musa diletakkan di dalam keranjang tersebut, dan kemudian keranjang itu
dihanyutkan di sungai Nil. Sementara itu kakak perempuannya, Miriam, mengamati
dari jauh tentang apa yang akan terjadi dengan keranjang itu.
Kemudian datanglah puteri Firaun, bersama
dayang-dayangnya untuk mandi di sungai Nil. Ketika ia melihat keranjang
tersebut, dia menyuruh dayangnya untuk mengambilnya. Ketika dibuka, nampaklah
bayi tersebut, dan puteri Firaun tersebut merasa kasihan. Demikianlah puteri
Firaun memutuskan untuk mengadopsi bayi tersebut sebagai anaknya, karena ia
sendiri tidak memiliki anak.
Kelahiran
Kitab Keluaran
1:8. Kemudian bangkitlah seorang raja baru imemerintah
tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. 1:9 Berkatalah raja itu kepada
rakyatnya: "Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari
pada kita.
1:10 Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap
mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan--jika terjadi
peperangan--jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu
pergi dari negeri ini." 1:11 Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan
atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan
bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses. 1:12 Tetapi makin
ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa
takut kepada orang Israel itu. 1:13 Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang
Israel bekerja, 1:14 dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat,
yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di
padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada
mereka itu.
1:15. Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan
yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama
Pua, katanya: 1:16 "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu
bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki,
kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup."
1:17 Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang
dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup. 1:18
Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka:
"Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?"
1:19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: "Sebab perempuan Ibrani tidak
sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang,
mereka telah bersalin." 1:20 Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan
itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda. 1:21 Dan karena
bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga. 1:22
Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: "Lemparkanlah
segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi
segala anak perempuan biarkanlah hidup."
2:1. Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan
seorang perempuan Lewi; 2:2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak
laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga
bulan lamanya. 2:3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi,
sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter,
diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah
teberau di tepi sungai Nil; 2:4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak
jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.
2:5. Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di
sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu
terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya
hambanya perempuan untuk mengambilnya. 2:6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi
itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya
dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani." 2:7 Lalu bertanyalah
kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri
seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan
puteri?" 2:8 Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu
pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. 2:9 Maka berkatalah puteri Firaun
kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan
memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan
menyusuinya. 2:10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri
Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya:
"Karena aku telah menariknya dari air."
Masa Dewasa
Setelah berumur 40 tahun, Musa melarikan diri dari
Mesir karena ia membunuh seorang Mesir. Ia sampai ke Midian dan menjadi
penggembala domba selama 40 tahun lamanya. Ia menikahi putri imam Zadok dan
mempunyai dua orang anak. Kemudian Musa diutus oleh Allah yang berbicara kepada
Musa melalui semak yang menyala-nyala namun tidak terbakar. Allah mengutus Musa
untuk menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan. Musa pun kembali ke Mesir
untuk meminta Firaun melepaskan bangsa Israel dengan ditemani Harun, kakaknya.
Firaun tidak bersedia melepaskan bangsa Israel karena
hatinya dikeraskan oleh Allah untuk menunjukkan kuasa Allah kepada manusia.
Akhirnya Allah menimpakan sepuluh tulah kepada bangsa Mesir yang puncaknya
diperingati oleh bangsa Yahudi sebagai hari raya 'Pesakh' atau pelepasan (Paskah
zaman Perjanjian Lama menurut orang Kristen).
Musa memimpin bangsa Israel dari Mesir menuju tanah
perjanjian yang berlimpah susu dan madunya, yaitu tanah Kanaan. Ketika mulai
keluar dari Mesir, sang Firaun mengubah pikirannya dan mengejar kembali orang
Israel. Musa kemudian membelah Laut Merah sehingga rakyat Israel yang
hampir terkejar dapat menyeberang dan kemudian Musa menenggelamkan para
pengejar yang berusaha menangkap kembali orang Israel. Selama perjalanan,
bangsa Israel terus mengeluh dan mencobai Allah sehingga Allah marah dan
menghukum Israel mengembara di padang pasir 40 tahun.
Musa menerima Sepuluh Perintah Allah di bukit Sinai,
dan menerima peraturan-peratuan peribadatan dan hukum-hukum sipil yang
dilakukan oleh bangsa Israel hingga hari ini. Allah dengan perantaraan Musa
melakukan banyak mujizat kepada bangsa Israel yang tidak percaya seperti
memberikan manna, air, dan burung puyuh untuk menjadi makanan pokok
orang Israel selama di gurun sehingga mereka tidak kelaparan maupun kehausan.
Setelah 40 tahun lamanya memutari jazirah Arab, bangsa Israel sampai ke tanah
Kanaan, namun sebelum memasukinya, Musa naik ke bukit Horeb dan meninggal.
Jasadnya diangkat oleh Allah sehingga tidak ada kuburannya. Kepemimpinan Musa
selanjutnya digantikan oleh Yosua, seorang jenderal yang takut akan Tuhan.
Pelayanan
Selama tugasnya tersebut, Musa melakukan berbagai
pelayanan, antara lain:
Penulis
Musa merupakan penulis 5 kitab pertama dari Perjanjian Lama dari Alkitab. Kitab-kitab tersebut adalah Kejadian, Keluaran, Imamat,
Bilangan, dan Ulangan. Kitab-kitab tersebut kemudian
dikenal di kalangan orang Yahudi dengan nama Taurat,
karena di dalam kitab-kitab tersebut terkandung banyak sekali perintah-perintah
yang disampaikan oleh Tuhan kepada Musa untuk bangsa Israel.
Hakim
Musa mengatur kehidupan seluruh umat Israel, dan
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di dalam bangsa Israel. Namun
semakin lama permasalahan itu semakin banyak, dan Musa harus menangani
permasalahan seluruh bangsa Israel yang mengantri untuk diselesaikan
permasalahannya dari pagi hingga malam hari. Atas saran Yitro
mertuanya, Musa mengangkat pemimpin-pemimpin atas bangsa itu untuk menangani
perkara-perkara yang kecil-kecil, sehingga Musa hanya menangani masalah-masalah
yang cukup besar saja.
Pembuat Tabut
Perjanjian
Musa, atas perintah Tuhan, membuat tabut perjanjian
dan kemah suci, di mana di dalam tabut perjanjian itu terletak dua loh batu
yang berisi sepuluh perintah Allah.
Dalam pembuatan itu, Musa dibantu oleh Bezaleel bin Uri bin
Hur dari kaum Yehuda, dan Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan.
Mereka berdua adalah orang-orang yang diperlengkapi Tuhan dengan
keahlian.
Peran
Di dalam Alkitab, Musa merupakan seseorang
yang diutus oleh Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel
dari perbudakan Mesir dan menuntun Israel
menuju tanah perjanjian, yaitu tanah Kanaan.
Musa juga berperan untuk menguak sisi-sisi pribadi
Allah, yang pada zaman orang Israel dianggap sebagai Pribadi yang menakutkan
dan cenderung untuk menghukum. Musa menunjukkan bahwa bahkan pada zaman itu pun
Musa dapat bergaul karib dengan Tuhan, bahkan sampai disebutkan berbicara
berhadap-hadapan muka dengan Allah seperti sepasang sahabat.
Musa juga mengajarkan bagaimana untuk menjadi seorang
pemimpin yang penuh belas kasihan terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Di
dalam banyak kesempatan ketika orang Israel memberontak, Tuhan sudah
"menawarkan" kepada Musa untuk mengambil jalan pintas, yaitu dengan
Tuhan memberantas seluruh orang Israel, dan akan menjadikan dari Musa seorang,
suatu keturunan, bangsa yang besar. Namun Musa belajar untuk tidak mementingkan
dirinya sendiri, dan memperjuangkan orang Israel di hadapan Tuhan.
Namun Musa juga mampu marah bila saatnya tepat. Musa
sungguh-sungguh marah kepada orang Israel ketika orang Israel, bahkan sampai
Harun, kakaknya, berbuat dosa dengan menyembah patung Lembu Emas, sementara
Musa sedang naik ke gunung Sinai untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan untuk
bangsa Israel.
Pandangan Islam
Musa mendapat julukan Kalim Allah (كليم الله, Kalimullah)
yang artinya orang yang diajak bicara oleh Allah. Bahkan tidak jarang dia
berdialog dengan Allah, dialog antara seorang hamba yang sangat dekat dengan
Sang Kekasih Yang Maha Pengasih
Genealogi
Musa bin Imran bin Fahis bin 'Azir bin Lawi
bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra'u bin Falij bin
'Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.
Kemudian Musa menikah dengan puteri Syu’aib yaitu Shafura (Shafrawa/Safora/Zepoporah) dan
memiliki keturunan berjumlah 4 orang, mereka adalah Alozar, Fakhkakh, Mitha,
Yasin, Ilyas.
Wujud fisik
Dikatakan dalam kisah Muhammad di perjalanannya menuju Sidrat al-Muntaha, ketika ia sampai di Langit Al-Khaliishah
(Keenam), bahwa Muhammad melihat Musa memiliki postur tinggi dan kekar, berambut
lebat, memiliki jenggot putih panjang menutupi dadanya, rambutnya hampir
menutupi badannya dan sembari memegang tongkat
Biografi
Kelahiran
Musa diutus Allah untuk memimpin kaum Israel ke jalan
yang benar. Ia merupakan anak Imran dan Yukabad binti Qahat, dan bersaudara
dengan Harun, dilahirkan di Mesir
pada pemerintahan Maneftah[13]
yang memiliki julukan Ramses Akbar[14]
atau "Thutmosis"
Mimpi Firaun
Pada masa kelahiran Musa, Firaun membuat peraturan
untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Tindakan itu diambil karena
dia sudah terpengaruh oleh paranormal kerajaan yang menafsirkan
mimpinya. Firaun bermimpi Mesir terbakar dan penduduknya mati, kecuali kaum
Israel, sedangkan paranormalnya mengatakan kekuasaan Fir'aun akan jatuh ke
tangan seorang laki-laki dari bangsa Israel.
Karena cemas, dia memerintahkan setiap rumah digeledah dan jika menemukan bayi
laki-laki, maka bayi itu harus dibunuh.